Umroh Di Bulan Romadon 2019

CATATAN PERJALANANAN UMROH RAMADHAN BAGIAN 2

Ternyata, bukan hanya saya saja yang mendadak melow. Rata-rata jamaah menangis ketika kami bergerak meninggalkan Madinah. Baru kali ini saya sebegitu cintanya pada satu tempat. Pastilah karena doa makbul Rasul agar Allah memberikan kecintaan dan keberkahan pada Madinah lebih dari pada Mekah.

Muthawif kami, dengan suara basah memimpin salam perpisahan dan doa agar kami bisa kembali ke Madinah, yang diaminkan oleh kami semua dengan penuh haru.

Tadinya, kami hanya akan berada di Madinah selama tiga hari. Namun mendadak terjadi perubahan sehingga kami berada di Madinah selama lima hari, dan empat hari di Mekah. Di bulan Ramadhan, jamaah umroh bisa melebihi musim haji. Sehingga pemerintah setempat harus membatasi jumlah jamaah agar sesuai dengan kapasitas Masjidil Haram.

Saya pernah mendengar ribuan orang yang mengejar lailatul qadr di Masjidil Haram dengan mengambil paket umroh 10 hari terakhir. Namun karena jamaah sudah begitu membludak, pemerintah Saudi melarang jamaah yang berada di Madinah untuk ke Mekah hingga setelah Idul fitri. Alhasil, mereka tidak jadi menjalankan umroh ramadhan, tapi di bulan syawal.

Konon, jumlah jamaah haji setiap tahunnya sekitar four juta jiwa, namun jamaah umroh ramadhan bisa mencapai dua kali lipatnya. Tak heran, sebab penduduk lokal di sana pun memadati masjid untuk beritikaf. Apalagi dalam sebuah hadits shahih disebutkan bahwa pahala umroh di bulan ramadhan, seperti pahala orang yang berhaji bersama Rasulullah. Itulah sebabnya tarif umroh ramadhan jauh tinggi dari pada umroh di bulan lainnya. Dari kisaran dua puluhan hingga ratusan juta rupiah, tergantung fasilitas dan paket yang diambil.

Tarif yang tinggi ini dikarenakan harga inn yang melejit, terutama di Mekah. Karena berapa pun tarif yang dipasang, selalu saja lodge-lodge tersebut penuh. Apalagi jika jaraknya dekat dengan masjid. Hotel bisa tiba-tiba berubah dari brosur yang ditawarkan karena ada oknum pemilik inn yang mendadak menaikkan tarif sebab ada tawaran yang lebih tinggi, padahal lodge tersebut sudah dibooking dan dibayar lebih dulu, Namun pihak lodge tidak mau tahu, dan mengembalikan uang yang sudah dibayarkan ke pihak journey dan tidak mau bertanggung jawab terhadap nasib para jamaah.

Hal serupa sepertinya terjadi pada kami, untungnya kami tidak sampai terlantar karena pihak journey segera mencarikan hotel pengganti. Sepertinya, mungkin itu sebabnya kenapa keberangkatan kami ke Mekah tertunda dua hari. Suatu hal yang akhirnya saya syukuri, sebab Madinah memang jauh lebih nyaman. Namun bagaimana pun, pelaksanaan umroh hanya dapat dilakukan di Mekah.

Hotel yang akhirnya kami menginap berada lebih jauh dari resort yang seharusnya kami tempati. Sekitar dua puluh sampai tiga puluh menit berjalan kaki. Hotelnya juga tidak terlalu bagus. Lobinya sempit, hanya seukuran ruang tamu minimalis. Liftnya tua dan macet. Bangunannya bagi saya agak kumuh. Kamarnya lebih sempit daripada kamar lodge kami di Madinah. Untungnya kamarnya lumayan. Saya ditempatkan sekamar bertiga dengan kamar mandi di dalam, AC, dan TV.

Kamar kami diacak kembali. Saya terpisah dengan BU Nur, Bu Haklimah dan Bu Suminten karena beliau bertiga mengambil paket umroh ramadhan satu bulan dan ditempatkan di lantai yang berbeda dengan saya. Saya sekamar dengan Bu Putut dan Bu Yusuf, yang sama-sama berasal dari Jakarta. Bu Putut berusia sekitar tujuh puluhan. Bu Yusuf berusia enam puluhan. Beliau berdua sahabat dan anggota pengajian BI dan hampir selalu ke mana-mana berdua.

Perjalanan kami dari Madinah menuju Mekah terbilang sangat lambat. Dari Madinah kami sudah bersiap sejak pukul dua siang. Namun akhirnya berangkat pukul empat sore usai salat Asar. Jalan di Arab Saudi lurus, lebar dan rata, seperti di jalan tol. Kami sempat berhenti karena bus yang satunya tiba-tiba bannya terlepas dan menggelinding ke jalan. Saya agak menyesal kami jadi kehilangan kesempatan salat magrib di Nabawi karena perjalanan kami sangat lambat. Jarak Madinah-Mekah yang sedianya ditempuh dalam waktu 5-6 jam, mundur menjadi nine jam.

Dalam perjalanan, bus kembali berhenti. Kali ini karena seorang petugas pemerintah yang membagikan ta’jil dari raja Saudi, berupa kurma kering, jus jeruk, susu krim, dan roti. Kami semua masih di jalan. Karena saya bukan penggemar susu, apalagi susu complete cream, saya hanya memakan jus jeruk dan sedikit kurma. Kami mengisi waktu dengan membaca kalimat talbiyah, atau berdoa masing-masing.

Kami sudah mengambil miqat di Bir Ali tadi. Artinya, saat ini kamu sudah dalam keadaan ihram. Semua larangan ihram sudah berlaku. Demi menjaga agar ihram kami tidak batal, kami lebih banyak berdiam diri. Sementara kalimat talbiyah berbagai versi terdengar berulang-ulang dari kaset radio.
Saat kami sampai di Mekah, salat tarawih di Masjidil Haram belum lagi usai. Berhubung jamaah membludak sampai ke jalan, termasuk di depan penginapan kami. Sekitar pukul setengah dua dini, kami baru bisa sampai ke inn, take a look at in, dan berbuka puasa pada pukul dua pagi. Barang-barang kami diurus oleh pihak journey. Berhubung perubahan lodge yang mendadak, dan kapasitas hotel terbatas, kami dibagi di dua atau tiga resort yang berbeda.

Biasanya kami tidak membawa ponsel ke masjid, tapi berhubung Masjidil Haram luar biasa penuh, kami semua diminta membawa ponsel dan membawa kartu nama inn, agar jika tersesat, kami bisa meminta tolong pada askar untuk mengantar kami kembali. Kami berjanji untuk bertemu di depan pintu satu, dekat dekat menara Abraj al-bait, jam tertinggi di dunia yang mengalahkan Big Ben di Inggris.

Jika Nabawi adalah masjid yang indah, Mekah adalah masjid yang sangat megah. Dengan 129 pintu yang masing-masing memiliki nama yang berbeda. Ornamen bagian dalam terbuat dari marmer terpilih, ukiran kaligrafi, lampu-lampu yang sepertinya berlapis emas, dan banyak lagi. Tapi saya tetap bisa memungkiri. Saya masih merindukan Madinah.

Rombongan kami segera menuju masjidil haram untuk menunaikan rukun umroh selanjutnya, yaitu thawaf. Kami dibagi menjadi beberapa kelompok. Saya mengekor di belakang Bu Suminten, mengikuti beliau meminum air zam-zam begitu memasuki masjidil haram karena saya kira itu sebuah sunah atau apa. Perkiraan yang salah.

Kami berhenti sejenak dan memanjatkan doa melihat Ka’bah.
“Pak, kalau kita ngebayar orang untuk nge-badal-in umroh untuk orang tua boleh ga?” Badal artinya menggantikan.

Saya menoleh kepada si penanya. Pertanyaan itu sudah pernah diajukan saat kami masih di Madinah, dan Pak Iwan sudah menjawab bahwa baiknya yang membadalkan adalah keluarga sendiri, itu pun setelah kita berumroh untuk diri kita lebih dulu.

“Tapi kan…,” si penanya berkata lagi. Sebuah argumentasi yang ujung-ujungnya dia mampu membayar. Saya menelan ludah, menenangkan diri, lalu beranjak pergi. Menghindari orang yang sama yang saya tanya kenapa tidak ke raudhah di Madinah yang dijawabnya dengan enteng bisa kembali tahun depan.

Saya tidak mau mengurusi orang lain. Toh, belum tentu juga saya lebih baik darinya. Lebih baik bersiap thawaf. Bisa melewati berbagai ujian dan sampai ke sini saja, saya sudah bersyukur.
Saya bergabung dengan bu Nur, Bu Haklimah dan suaminya, Bu Suminten serta suami beliau. Kami berenam menjadi satu rombongan kecil agar tidak terpisah dalam thawaf karena terdorong jamaah lain. Saya, masih dengan kesadaran yang belum sepenuhnya, mengekor saja.

Kami memulai thawaf. Bu Suminten dan Bu Haklimah sudah berurai air mata sejak tadi. Saya? Mati rasa. Beku. Tidak tahu harus berbuat apa. Saya memandang ke sekeliling. Juga memandang langit. Jadi…, inilah tempat itu….

I’m here…, God. I’m here…, subsequently….
Ka’bah ada di depan saya, hanya berjarak beberapa meter! Saya merasa shock bahkan sedikit linglung. Pengalaman ini begitu indah tapi juga begitu tidak nyata. Seperti bermimpi namun dalam keadaan terjaga. Saya kehilangan nalar, tidak sanggup berpikir, dan berbicara. Baru setelah beberapa kali putaran dan saya meyakinkan diri sendiri bahwa saya benar-benar berada di sini, saya menatap hajar aswad, mengucap bismilahi allahu akbar, dan menangis….

Episode koper
Kami melanjutkan dengan sa’i yang kadang diselingi dengan meminum air zam-zam. Begitu tiba di penanda lampu hijau, kami berlari-lari kecil, kemudian berjalan kembali. Saat akhirnya kami melakukan tahalul, adzan subuh terdengar. Makanan yang kami santap dengan terburu-buru pada jam dua dinihari tadi adalah buka puasa sekaligus sahur kami.

Usai menunaikan salat subuh, kami kembali ke resort. Suhu pada subuh hari itu adalah 32 derajat celcius. Pantas saja baju saya lepek karena keringat. Jarak antara Shofa dan Marwah sekitar 450 meter, sehingga perjalanan tujuh kali berjumlah kurang lebih 3,15 kilometer. Belum lagi thawaf dan perjalanan pulang pergi ke inn. Ini seperti berlari empat kilo meter di Tanjung Priok, Jakarta pada saat tengah hari bolong.

Saya belum menemukan koper saya. Hanya ras ransel saya saja yang berisi satu stel pakaian lengkap. Saya mencari-cari koper di tempat penitipan, lalu kembali ke kamar, meletakkan ponsel dan tempat tidur dan membuka ransel. Hufh, saya tidak punya sabun karena saya pindahkan ke dalam koper sebelum berangkat. Room mate saya belum kembali ke kamar.

Saya pergi ke kamar sebelah, meminta sabun mandi dari seorang jamaah. Jamaah lain memberi saya kaos untuk berganti pakaian. Saya kembali ke kamar dengan sabun dan kaos, bersiap untuk mandi ketika mendadak saya sadar, ponsel saya hilang!

Saya membuka ransel dengan panik, memeriksa ke kolong, ke lemari, laci dan seluruh ruangan. Nihil.

Saya memeriksa ransel kembali memeriksa sesuatu. Dompet saya masih ada, utuh. Paspor dipegang oleh pihak journey. Setidaknya saya bisa pulang ke Indonesia.
Saya segera melapor pada muthawif dan pemimpin rombongan, mereka menelepon ke ponsel saya. Nomernya masih aktif, hanya tidak diangkat. Kami melapor ke pihak inn, namun ternyata tidak cukup membantu.

Saya tidak tahu dosa apa yang telah saya perbuat. Sepanjang pagi itu, saya diliputi penyesalan, dan juga kemarahan. Penyesalan karena membiarkan pintu kamar tidak dikunci, meski hanya ke kamar sebelah sebentar, dan kemarahan karena hal ini terjadi di tempat paling suci di dunia.
Saya baru tahu bahwa pencurian terhadap jamaah sudah sering kali terjadi. Saat saya sudah kembali ke Indonesia, saya mendengar, dalam rombongan kami, bukan saya saja yang kehilangan barang bawaan.

Seorang teman saya kehilangan dua hp-nya karena dicopet di depan hotel. Seorang ibu lain kehilangan sekitar 7 juta rupiah. Setelah memberikan sedekah ke pengemis di jalan, tiba-tiba beliau dikerubungi para pengemis lain, dan dalam sekejap dompet beliau raib.
Cerita jamaah yang lain malah lebih mengerikan.

Saya baru mengerti kenapa mbak Uni yang hampir tiap tahun umroh sengaja menyamar sebagai orang arab dengan gamis hitam dan cadar khasnya. Saya baru mendengar bahwa untuk mencium hajar aswad pun ternyata ada banyak oknum calonya.
Aku baru tahu bahwa saat kita naik taksi, laki-laki harus masuk lebih dulu dan turun belakangan untuk penghindari penculikan perempuan.

Saat aku mendengar kisah-kisah yang lebih menyeramkan lagi, saya tidak bisa menyembunyikan kemarahan saya. Bagaimana hal seperti itu bisa terjadi di tanah suci?
Mbak uni, dengan bijak menjawab : “Justru itulah sebabnya Rasul diturunkan di sini. Dari dulu ini pusat jahiliah.”

Saya geram. Saya semakin rindu pada Madinah yang baru sehari saya tinggalkan. Di madinah, orang-orangnya tidak keras. Mereka ramah dan murah senyum. Jarang saya temui pengemis di jalan. Tapi di sini? Sepanjang jalan menuju masjidil haram pengemis berderet di tengah jalan. Kebanyakan anak-anak kecil berkulit hitam -mungkin orang somalia- berteriak-teriak meminta satu riyal. Anak-anak cacat tanpa tangan atau kaki. Meski ternyata ada juga yang hanya pura-pura cacat.

Saat askar melakukan pengusiran, tiba-tiba saja mereka berdiri, berpegangan tangan pada ibu-ibu mereka dan berlari. Can you consider?

Baru beberapa saat lalu mereka duduk di tanah, terlihat cacat tanpa tangan dan kaki. Dan tiba-tiba saja mereka bisa berdiri, bahkan berlari dan sambil berpegangan tangan pula, melarikan diri bersama ibu-ibu mereka yang sontak muncul entah dari mana.

Ekploitasi anak ternyata ada di sini. Meski saya yakin mereka bukan warga negara Saudi. Fenomena yang mirip seperti jumlah pengemis dan gelandangan yang tiba-tiba membludak di Jakarta saat ramadhan.

Saya pribadi tidak menyamar. Jika saya harus pergi ke masjid sendirian, setelah berdoa, saya akan mengenakan masker dan kaca mata hitam sekalipun jalan tidak berdebu atau panas karena terhalang bayangan gedung. Saya baru membukanya saat merasa sudah memasuki pintu masuk perempuan di dalam masjid.

Satu hal yang harus saya ingatkan pada diri sendiri adalah berdoa terus menerus dan jangan terlihat tidak tahu jalan. Saya akan berjalan lurus dan hanya mengamati penanda-penanda jalan sekedarnya dari balik kaca mata hitam saya.

Situasi umrah saat ramadhan bahkan jauh lebih penuh daripada saat musim haji. Situasi thawaf di masjidil haram selalu disiarkan secara live di TV. Setiap saat, Ka’bah tidak pernah terlihat sepi, bahkan pada tengah malam atau tengah hari sekali pun. Di awal dan pertengahan ramadhan jumlah jamaah di masjidil haram sekitar four juta jiwa. Kalau ada yang bilang New York kota yang tidak pernah tidur, mereka harus melihat Mekah.

Konon setelah aku pulang, saat malam 27 ramadhan, jamaahnya mencapai 7 juta jiwa! Jauh lebih banyak dari musim haji sekalipun sehingga pemerintah Saudi terpaksa melarang jutaan jamaah lain di Madinah untuk memasuki Mekah karena kapasitasnya sudah tidak mencukupi.
Itu artinya, banyak sekali yang sudah jauh-jauh datang dari berbagai negara, dan tidak bisa melakukan umroh ramadhan, karena masjidil Haram baru ‘agak sepi’ setelah idul fitri. Tidak heran rombongan kami pun baru bisa menuju Mekah setelah dua hari mundur dari jadwal. Satu hal yang belakangan aku syukuri, karena ternyata Madinah jauh lebih berkesan untuk saya pribadi.

Multazam
Bukan hanya ponsel yang hilang, tapi bahkan koper saya pun tidak ditemukan. Ada apa ini?!
Pukul dua siang itu, saya sengaja pergi ke masjid sendirian. Bu Putut dan Bu Yusuf belum pulang ke inn sejak dzuhur tadi. Beliau berdua mengirit tenaga sekaligus bermaksud itikaf sehingga baru akan kembali ke resort setelah asar nanti. Memang biasanya kami seperti itu, hanya saja karena tadi saya masih mencari koper saya yang entah ada di mana, saya pulang lebih dulu ke resort.

Hotel-motel yang seharusnya diinapi jamaah dari journey kami sudah diperiksa, tidak ada koper milik saya. Hotel di Madinah pun sudah dicek, tidak ada hasil. Padahal saat akan berangkat, semua koper sudah ‘diabsen’ dan sudah masuk ke dalam bus. Lantas, kenapa bisa begini?
Saya memasuki Masjidil Haram dan mendekati Ka’bah. Saya sedang ingin sendiri saat ini. Saya ingin menghibur diri. Dan hanya tempat ini yang bisa menghibur saya.
God, please…, hiburlah saya.

Setelah melakukan thawaf, saya terseret arus dan membawa saya semakin mendekat ke arah Ka’bah. Saya melihat sebuah celah, jalan terbuka untuk menyentuh Ka’bah. Orang-orang berebut menuju Hajar Aswad. Saya terdorong ke kanan saat tangan kiri saya baru menyentuh batu itu.
Tidak apa-apa. Bukan itu yang saya incar.

Saya membiarkan diri saya terdorong lagi. Membuat saya menjauh dari hajar aswad. Begitu sampai di pintu Ka’bah, saya segera berpegangan pada kiswah, kain penutup Ka’bah, dan mempertahankan diri saya di tempat yang saya impikan : Multazam. Tempat paling makbul untuk berdoa.

Saya mencurahkan seluruh perasaan saya saat itu. Saya tidak tahu kenapa saya mendapat kemalangan seperti ini di tempat suci ini. Saya hampir merasa yakin bahwa ponsel saya dicuri oleh orang dalam inn. Karena kami semua baru tiba, sebagian bahkan belum masuk kamar, dan saya hanya meninggalkan kamar sebentar. Kami tidak tahu seluk beluk motel, yang ternyata ada pintu darurat di dekat kamar saya. Saya yakin hanya pegawai motel yang mengetahuinya.

Saya menuntut jawaban, kenapa saya mengalami ini. Saya menuntut ganjaran kepada orang yang mencuri ponsel saya. Saya meminta keadilan. Saya memohon petunjuk, apa salah saya? Tuhan tahu perjuangan saya menabung bertahun-tahun untuk sampai ke tempat ini. Saya menangis, drama queen.
Itu adalah saat-saat paling indah, paling mengharukan, menakjubkan sekaligus paling menggetarkan dalam hidup saya. Saat saya menempelkan tubuh saya pada ka’bah, berpegangan pada kiswah. Saya memanjatkan doa-doa yang saya ingat. Doa untuk saya, keluarga, dan teman-teman. Dan saya bersyukur karena bisa berada di sini. Di tempat yang menjadi rebutan semua orang : Multazam.

Entah berapa lama saya berada di Multazam. Saya baru sadar saat para askar mengosongkan sekeliling ka’bah karena adzan asar akan segera dikumandangkan dan imam Masjidil Haram sedang bersiap mengambil tempat.

Saya mundur karena askar menggiring kami menjauh. Saya masih belum habis mengerti. Adzan asar? Itu artinya saya berada sekitar satu setengah sampai dua jam di Multazam. Sungguhkah selama itu?
Satu hal yang pasti, saya merasa jauu…h lebih lega. Saya salat asar dan sebelum kembali ke motel. Saya berbalik begitu akan memasuki lorong masjid, memandang ke arah multazam, dan tersenyum penuh terima kasih. Merasa benar-benar terhibur.
Entah bagaimana saya merasa ada yang membalas senyum saya.

The mysteri is end…
Kembali ke motel dengan hati lebih lapang. Saya kembali ke kamar, sendirian, dan masih merasa takjub atas ‘jamuan’ barusan. Cuaca di Mekah panas dan terasa lembab di kulit. Saya memutuskan untuk mandi dulu sebelum melakukan hal lain. Berdasarkan info dari Pak Iwan dan Pak Imran, kami akan melakukan umroh kami yang kedua besok, mengambil miqat di Ji’ronah.

“Untuk yang merasa masih kurang puas, masih merasa sepertinya umroh kemarin kurang persiapan, atau yang mau mengumrohkan orang tuanya,” jelas Pak Iwan.

Untungnya, karena saya terbiasa backpacker, saya masih memiliki satu stel pakaian ganti lengkap beserta barang-barang pribadi di dalam ransel, plus kaos pendek pemberian tetangga sebelah kamar. Jadi sementara pakaian yang satu saya pakai, pakaian lainnya saya cuci. Begitu bergantian.

Sambil membereskan ransel, saya teringat seharusnya saya mengisi diskusi singkat bersama teman-teman FLP Saudi saat ini. Tapi komunikasi kami terputus karena ponsel saya hilang. Sebelumnya, kami hanya berkomunikasi via sms. Saya sempat memberikan no ponsel para muthawif kepada teman-teman di Saudi, karena baik Pak Iwan maupun Pak Imran telah mengganti sim card lokal Saudi sehingga lebih murah jika mereka menelepon saya.

Saya jadi merasa tidak enak, padahal saya telah berjanji untuk bersilaturahim dengan mereka usai pelaksanaan umroh. Umroh kami sudah selesai sejak tahalul dini hari tadi. Meski saya juga baru tahu bahwa kami akan mendapat ‘bonus’ umroh yang kedua besok.
Dan mendadak kesadaran saya terbuka. Tabir pun tersingkap….

Saya ingat doa apa yang saya panjatkan di Raudah kedua saya, saat berlama-lama berdoa di depan raudhah. Karena saya tahu waktu kami di Mekah tidak banyak, saya berdoa agar saya bisa fokus sehingga bisa lebih maksimal.

Doa saya yang lain adalah, saya memohon petunjuk, karena merasa tidak nyaman dengan orang yang menjadi mahram saya. Sesungguhnya, saya telah menyiapkan sebuah hadiah yang bagi saya cukup berharga, saya bawa jauh-jauh dari Indonesia sebagai rasa terima kasih saya karena dengan mahram inilah, saya bisa mendapat visa umroh saya, setelah sebelumnya tertunda cukup lama.

Pandangan setiap orang berbeda terhadap ‘mahram gadungan’ ini. Sebagian tour mengharuskan untuk wanita didampingi mahram sungguhan sebagai syarat imigrasi di Jeddah. Sebagian journey memfasilitasi jamaah lain menjadi ‘mahram sementara’, karena hanya dibutuhkan untuk pemeriksaan paspor di Jeddah, bukan dalam pelaksanaan umroh karena toh kami dibimbing beberapa muthawif dan petugas journey sehingga aman. Karena ayah saya telah lama wafat dan saudara laki-laki saya terpisah jauh dari saya, sementara usia saya masih mengharuskan saya didampingi mahram, keberadaan ‘mahram sementara’ ini bagi saya cukup membantu.

Ada beberapa sikap yang bagi saya kurang pantas dilakukan oleh mahram saya ini, sehingga saya ragu, apakah orang ini layak saya beri hadiah? Tapi di satu sisi, saya takut termasuk orang yang tidak bersyukur dan tidak tahu berterima kasih jika tidak memberikan sesuatu. Saya memohon agar diberi pertanda, apa yang harus saya lakukan?

Saya mengingat kembali barang-barang dalam koper saya…
Pakaian, beberapa barang baru, obat-obatan pribadi, oleh-oleh tasbih yang saya beli di masjid Quba, beberapa kilo kurma ruthob yang saya beli di Madinah usai tarawih, buku inspiration hidup yang sempat sedikit saya tuliskan catatan perjalanan saya, alat tulis termasuk flash disk eight giga berisi facts-data kantor dan record-document yang akan saya sharing untuk teman-teman di Mekah, serta hadiah untuk mahram saya.
Mendadak saya tersadar….

Doa-doa saya terkabul, meski saya tidak menyangka seperti ini caranya.
Saya berjanji bersilaturahim dengan teman-teman di Mekah asal umroh saya sudah selesai. Dan hari ini kami batal bertemu, karena tiba-tiba terjadi perubahan inn yang belum sempat saya beri tahu. Lagi pula ternyata umroh saya belum selesai. Belum selesai sepenuhnya karena kami akan umroh lagi besok.

Saya minta dibuat fokus dalam beribadah, dan itu terkabul dengan cara saya tidak bisa dihubungi karena ponsel, report, buku catatan perjalanan, dan oleh-oleh saya hilang. Saya minta diberi petunjuk apakah saya perlu memberikan hadiah pada mahram saya, dan koper saya hilang. Saya berjanji sedapat mungkin untuk mendoakan orang-orang yang menitip doa pada saya di multazam, dan daftar doa tersebut, yang ada dalam concept hidup saya hilang, sehingga saat di multazam tadi, sebagai pamungkas karena tidak semua doa saya ingat, saya memohon agar doa-doa dalam thought tersebut, termasuk titipan doa orang-orang, terkabul.

Saya jadi ingin tertawa. Menertawakan terkabulnya semua doa saya dengan cara yang benar-benar di luar dugaan.

Saya berkunjung ke kamar Mbak Uni setelah memastikan pintu kamar terkunci. Mbak Uni adalah adik pemilik travel ini. Itu sebabnya hampir setiap tahun beliau berangkat ke tanah suci.
“Gak papa deh mbak, koper saya gak balik. Ga usah dicari lagi.”
“Huss, jangan bilang begitu,” Mbak Uni mengingatkn saya.
“Serius, gak papa.” Saya pun menceritakan semuanya.

Epilog
Saat berbuka puasa, Pak Imran dan Pak Iwan terheran-heran melihat saya yang tadinya murung berubah menjadi sangat ceria, menyapa setiap orang dan bahkan tertawa-tawa.

“Mbak Nur, kopernya nanti kita lacak lagi ya?” beliau berdua tampaknya masih merasa bersalah.
“Gak usah pak,” saya terkekeh-kekeh dengan cueknya. “Itu bagian dari doa-doa saya yang terjawab.” Saya tersenyum. “Lagipula tadi saya sudah terhibur di Multazam.”

“Mbak Nur baiti ya?” Mas Razaq, mahasiswa Saudi yang menjadi muthawif tambahan mendekati saya.

Wah, gara-gara koper hilang, saya jadi dikenal para jamaah dan kru tour?
“Iya, ada apa mas?”
“Tadi ada teman saya yang mencari orang bernama Nur baiti, tapi saya tidak tahu apakah maksudnya ibu Nur baiti yang sama.”

“Para mahasiswa dan mahasiswi di Saudi ya?”
“Betul, tadi mereka bingung karena di inn tempat jamaah kita seharusnya menginap tidak ada nama Nur baiti di daftar tamu.”

“Bisa tolong sampaikan ke teman-teman untuk bertemu saya di sini saja? Besok kan kita umroh. Lusa sudah balik ke Jakarta. Kalau bisa, ketemu di lobi saja, usai tarawih. Sekitar tengah malam berarti.”
“Baik, nanti saya sampaikan.”

“Makasih mas. Memangnya mas Razaq kenal dengan teman-teman saya itu?”
“Kenal. Teman-teman panitia yang mencari mbak dua hari ini, teman sekamar saya di asrama mahasiswa.”

Oalah. Dunia sempit.
Dua hari mereka mencari-cari saya, dan ternyata ketemu…, karena mendengar secara tidak sengaja saat mas Razaq menerima telepon dari pihak journey, sepertinya dalam usaha mencari koper saya.
Skenario yang indah bukan?

Singkat kata, saya akhirnya bisa bersilaturahim sesuai yang dijanjikan. Pesawat kami menuju Jakarta mengalamai gangguang dan memerlukan perbaikan selama dua hari. Kami pun mendapat kompensasi tambahan menginap di hotel yang baguuus di Jeddah plus city tour selama tiga hari, gratis.

Tadinya saya ingin mengambil ATM saya dan membeli ponsel yang sama di Jeddah, harganya saat itu masih berkisar tiga setengah juta. Namun akhirnya saya batalkan dan mendapat harga yang lebih murah di Indonesia. Saya juga mendapat banyak hadiah dari jamaah lain. Bu Putut da Bu Yusuf membelikn saya baju-baju baru. Jamaah lain memberikan saya jilbab. Jamaah lainnya juga menawarkan saya memilih dan memiliki barang-barangnya, namun saya tolak karena saya sudah merasa cukup.

Dan, berakhirlah perjalanan saya selama tiga belas hari tersebut.
Load disqus comments

0 komentar